Dengar Ini; Aku Tiada Kan Kemana
12 May 2008 by Cheria
Sanur, Bali, Monday 12 May 2008
Kasih… kau lihat itu… matahari tersipu-sipu muncul dari lini ufuk utopia, menawarkan secercah surga dunia.
Kasih kau hirup ini… napas alam tak terjamah yang menghidupkan karsa.
Kasih kau dengar itu… debur ombak dan angin bersahut-sahutan dalam kecitaan asa.
Apakah yang mereka perbicangkan?
Apakah menyoal nyiur yang bergemerisik mencari perhatian atau embun yang anggun dan menyejukkan?
Dan… apakah yang kau perbincangkan di dalam hatimu?
Apakah yang kau perbicangkan di balik sinar mata lembutmu?
Tiada mampu kasih… tiada mampu kau bendung suara-suara itu sebisu apa pun kau coba.
Aku rasakan gigantisme energi positif yang kuterima darimu dari jarak sedekat ini… kuat sekali… kuat sekali hingga aku mulai bisa mendengar perbincangan hatimu seperti gelombang ultrasonik yang merayap ke sekujur tubuhku.
Aku rasa aku mulai bisa mendengarnya.
Tidak kasih, kau dengar ini… aku tiada kan kemana.
Kasih… resapi ini; kebebasan minor yang kian tumbuh dan memampukan.
Jadilah kita sepasang Laswellian walau barang sesaat.
Karena kita tiada butuh umpan balik sosial yang usang yang kadang hanya kan menjadi rem kebebasan.
Maka…
Lupakanlah Jakarta, lupakanlah Jakarta.
Bawalah aku kemana saja waktu berhenti berjingkat.
Bawalah aku berlari bersamamu mencari paradigma kebahagiaan yang telah kita sepakati; kebahagiaan yang dipersonalisasi…
Mungkin aku berlari terengah-engah.
Mungkin aku jatuh dan terpuruk kepayahan.
Mungkin aku tertinggal jauh di belakangmu.
Mungkin kau menoleh ke belakang dan menggapai tanganku.
Mungkin aku meneruskan untuk berlari bersamamu sambil berusaha sekuat tenaga mengenyahkan keterbatasanku.
Mungkin aku lalu tertidur kelelahan di pangkuanmu.
Mungkin kau tersenyum mendapatkan kembali gadis kecilmu.
Dan kau kembali berbincang dengan hatimu.
Aku rasa pada saat terlelap pun aku bisa mendengarnya.
Tidak kasih, kau dengar ini… aku tiada kan kemana.
Tiada kan kemana.

