Maka Kasih Bicaralah
12 January 2008 by Cheria
Nusa Dua, Bali, Saturday 12 January 2008
Kasih… hati ini kian menyeruak terbuka tuk menerima pucuk-pucuk cinta baru. Tetapi belum, belum, kasih… belum sampai pada tahap itu, tahap dimana senyawa-senyawa kimia meletup-letup bertalu-talu bersama air mata.
Namun demikian, kasih… tahu kah engkau bahwa hari-hariku belakangan ini kian semarak dengan serpihan-serpihan manis puzzle emosional baru yang menunggu untuk dirangkai sempurna.
Mereka, ah… aku lebih suka menyebutnya “dewa-dewa kecil yang sayap-sayapnya belum tumbuh sempurna” bersikap sangat manis kepadaku.
Aku takjub sekaligus merinding ngeri dibuatnya.
Ngeri terhadap perasaanku sendiri.
Ngeri akan pertanyaan-pertanyaan yang berbisik gemerisik di dalam hati menyoal kejujuran dan ketulusan mereka.
Kasih… ada yang sangat menyenangkan di antara dewa-dewa kecil itu.
Adalah seorang teman baru, sekiranya ia.
Sikapnya baik tapi tak jarang pula melelahkan hati.
Jenaka pula gerangan.
Tiap kali bersamanya, tertawa-tawa aku dibuatnya.
Tiap kali aku menatapnya, sekonyong-konyong pula aku membuang mukaku ke arah yang berlawanan, membuang lamunanku tentangmu.
Kasih… pada saat Cinderella tergesa meninggalkan istana dan pangerannya di lantai dansa, seketika itu pula aku menengadah ke langit, ke arah bintang-bintang yang tersenyum dan mengedip-ngedipkan matanya untuk menggodaku.
Bersamanya, aku berdiri menunggu taksi ingin pulang.
Tuhan, sudikah Engkau mendengarkan ini?
Sudi kah Engkau menerima syukurku yang ku panjatkan padaMu atas malam ini dan malam-malam sebelumnya yang begitu menyenangan bersamanya?
Kurihup racun udara malam Jakarta yang dingin dan lembab, kumaknai setiap hembusan napasku, dan disana kutemui perasaan yang kukenal baik, degup jantung yang indah, desir sukacita yang datang jarang-jarang.
Lalu ku berbisik pada waktu, “hey, berjingkatlah engkau lamat-lamat, karena aku sangat menyukai momentum ini, dan tidak menginginkannya cepat-cepat berlalu”.
Kasih… bersamamu, pada saat yang demikian kau akan menggapai tanganku dan mencium punggungnya dengan seringaimu yang menunjukkan penghormatan yang tinggi terhadap gadis kecil di hadapanmu.
Tak pernah ketinggalan kau menanyakan komentarku tentang hidangan yang barusan kita lahap dengan agak malu-malu.
Kasih… bersamanya, pada saat diam-diam aku melirik ke arahnya, aku mendapatinya hanya diam saja.
Kasih… pada saat yang demikian kau akan menanyakan suasana hatiku dan meresahkan apa yang sedang kupikirkan seolah baru kau lontarkan pertanyaan-pertanyaan itu kepadaku untuk pertama kalinya pada satu malam, dan aku selalu menjawabnya, hampir selalu berulang-ulang, bahwasanya aku baik-baik saja dalam makna yang paling harafiah.
Kasih… bersamanya, dia tetap diam saja. Entah apa yang dipikirkannya.
Kasih… pada saat yang jarang-jarang, ada suatu saat di suatu malam, kau mengusap perutku dengan sangat lembut.
Pada saat itu pula kau, dengan raut muka penuh perhatian, menanyakan apakah aku baik-baik saja.
Kau bertanya apakah keram otot perut yang disebabkan siklus menstruasi bulanan sudah membuatku gila.
Aku lantas tertawa-tawa bukan karena pertanyaan polosmu, tapi karena ku jatuh hati terhadap bentuk perhatianmu yang gamblang.
Kasih… pada saat yang jarang-jarang, pada saat senja yang jingga, kau koreksi t-shirt warna lembayungku yang sedikit kependekan, dan kau menariknya hingga ke bagian yang semestinya tertutup.
Tak cukup sampai disana, kau pun kecup keningku sembari mengatakan “pardon me” dengan setengah berbisik, dan menerbitkan sebuah senyum khas yang selalu dapat membesarkan hati.
Luar biasa, kasih…
Luar biasa, karena pada saat yang demikian pula aku merasa menjadi gadis kecil yang paling dicintai.
Terima kasih, atas perasaan agung yang telah berhasil kau ciptakan.
Terima kasih atas cintamu.
Coba ucapkan te-ri-ma-ka-sih, besar rasa ingin tahuku mendengar bagaimana kata ajaib itu terucap dari aksen sengaumu yang sangat berkelas.
Lalu kini boleh lah aku kembali meneruskan prosaku tentang seorang teman baru dan mengangkat pertanyaan-pertanyaan dari palung-palung terdalam di relung hatiku…
Kasih… ada sebuah pelajaran yang kuambil dari satu dari ribuan percakapan kita delapan belas bulan silam, tentang arti kebahagiaan yang dipersonalisasi, tentang spesifiknya kebahagiaan itu, tentang betapa bersahajanya kebahagiaan itu.
Oleh karena yang demikian itu merasuk masuk ke dalam kalbuku dan berefleksi membentuk sebuah optik darimana kumelihat paradigma dari segala sesuatunya, maka kasih… bukan hiperbolis kiranya aku dapat menggolongkan hari-hari menyenangkan bersamanya ke dalam definisi kebahagiaan yang berhasil kau sepakati denganku.
Kasih… apakah aku cukup menyenangkan baginya?
Akankah kebersamaan dan malam-malam yang menyenangkan itu mempunyai arti baginya?
Apa pendapatmu tentang hal itu?
Kasih… aku tak dapat mendengarmu.
Berbicara lah dirimu padaku lewat angin, lewat resonansi yang melintas di atas samudera-samudera dan benua-benua yang terbentang angkuh memisahkan kita.
Mari diskusikan tentang hal itu.
Mari diskusikan juga tentang mengapa aku peduli terhadap pertanyaan-pertanyaan itu.
Bersamamu, aku yakin hal itu akan menjadi debat kusir remeh-temeh yang tak berujung, sama perihalnya seperti pada saat kau bersikeras mempertahankan pendapatmu tentang betapa jujurnya musik Reggae, dan ku membantahnya dengan dalilku yang bernada mengejek.
Kau hanya akan meninggalkan seulas garis senyum paling bijak di bibirmu sekeras apa pun aku menerobos menentangmu.
Aku selalu gamang, meradang, dan akhirnya merasa menang, sedangkan kau selalu aduhai tenang, itulah salah satu hal kecil yang kupuja darimu.
Maka kasih, bicara lah, mari cari sintesa, demi Tuhan aku hampir gila.
Pejamkanlah mata, tariklah dalam-dalam napasmu, dan kosongkanlah pikiranmu, serta bayangkanlah rupaku maka kan dapat kau mendengar suaraku memanggil-manggil namamu. Telepathy.
Wahai kasih terdahulu, bicara lah…

